Jumat, 28 Desember 2012

Cara Menghadapi Emosi

cara menghadapi emosi, amarah, cara mengatasi emosi

Bagaimana cara menghadapi emosi?

Emosi yang dimaksudkan disini adalah emosi amarah. Sebaiknya ditegaskan terlebih dahulu agar anda nanti mudah memahami penjelasannya. Mengingat emosi itu bermacam macam bentuknya. 

Sebelum tulisan ini membahas lebih jauh tentang cara menghadapi emosi. Ada baiknya kita coba untuk mengenal dulu apa sebenarnya emosi itu. 


Dari yang sering saya rasakan sendiri. Setiap merasa marah, jelas sekali terasa gejolaknya didada. Walaupun sebenarnya saya tidak yakin benar elemen tubuh yang mana yang merasakan hal itu. Bisa jadi karena saya tidak mendalami tentang ini secara keilmuan formil. Yang pasti perasaan emosi itu terasa menggumpal dibagian dada. 

Kemudian lebih lanjut lagi. Banyak yang mengatakan bahwa emosi itu ada di hati. Ya kita setuju saja ya. Walaupun hati manusia sebenarnya  tidak terletak di bagian dada. Nah saya harap anda juga setuju saja dengan pernyataan tadi. Bahwa emosi itu ada di hati manusia. Dan untuk kenyataan bahwa perasaan emosi itu terasanya adalah pada bagian dada. Sebaiknya tidak perlu dipikirkan dulu. Itu hanya Allah S.W.T yang tau.

Baiklah. Jadi sudah kita pahami bahwa emosi itu adalah gejolak perasaan yang terletak di hati dan kita rasakan di dada kita.

Bisakah perasaan emosi itu diatasi?

Nah, karena emosi letaknya ada di hati, maka emosi tidak bisa diatasi seketika itu juga saat sedang meluap luap. Untuk mengatasi emosi perlu perenungan yang cukup panjang memakan waktu dan pengalaman hidup. Istilah kerennya disebut dengan proses pendewasaan diri. Dan inilah cara menghadapi emosi yang paling ampuh. Namun butuh waktu. 

Satu hal yang juga tak kalah pentingnya - sebagai pendamping dalam menghadapi emosi, yaitu apa yang sering kita tau dengan sebutan "akal". Manusia oleh Allah S.W.T dilengkapi dengan 3 antena, yaitu akal, lalu hati, kemudian naluri. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Binatang hanya memiliki naluri.

Lalu bagaimana sebenarnya peran akal? 

Akal menempati urutan pertama dari unsur unsur yang membedakan kita dengan binatang. Fungsi akal ialah sebagai penyeimbang atau moderator bagi hati dan naluri kita.  

Contoh, pernah dengar ungkapan "hati boleh panas - namun kepala harus tetap dingin". Kalau ditelaah lagi, sebenarnya yang dimaksud 'kepala' pada ungkapan tersebut ialah akal kita. Jadi kira kira begini tegasnya, anda boleh emosi, sebab emosi itu adalah perkara hati, namun redamlah gejolak emosi di hati anda menggunakan akal anda. 

Nah yang jadi persoalan sekarang ialah, itu bukan perkara mudah.

Kita ini kebanyakan masih lebih sering menuruti apa maunya hati kita - gejolak emosi yang terasa di dada kita. Sehingga akal kita sering terkalahkan oleh emosi di hati kita itu. 

Sampai sini setuju ya? Oke, lanjut.

Jadi akal kita yang seharusnya menjadi filter bagi hati kita, melempem dan kurang maksimal perannya. Akal yang mestinya mampu menjadi senjata ampuh untuk meredam emosi, malah justru kalah oleh emosi itu sendiri dan akhirnya mendukung apa maunya emosi tadi.

Sekarang kita tau apa dan bagaimana sebenarnya emosi itu. Serta dimanakah letak emosi itu.

Cara menghadapi emosi

Seperti telah dipahami bersama, bahwa penyeimbang bagi emosi ialah akal kita. Akal yang berfungsi maksimal adalah cara ampuh menghadapi emosi. Oleh karenanya kita harus memaksimalkan kerja akal. Bagaimana caranya?

Gambaran tentang akal sederhana saja. Berikut ini adalah contohnya.

Anda bergaul dengan preman dan mempelajari ilmu kepremanan, maka niscaya akal anda akan memahami pola emosional orang yang berprofesi sebagai preman. Sebab itu adalah bagian dari kepribadian atau karakteristik seorang preman. Jadi sejauh mana akal anda akan berfungsi mengimbangi hati anda? Ya seperti seorang preman.

Contoh lagi. Anda bergaul dengan para pemimpin yang diktator. Maka tanpa anda sadari akal anda akan menerima pelajaran, atau tepatnya semacam doktrin mengenai kapan dan bagaimana harusnya seorang diktator jadi emosional. Sehingga sejauh itulah akal anda akan mengawal hati anda. 

Ini contoh lagi. Misalnya anda bergaul dengan orang. Yang pekerjaan orang itu menuntutnya untuk memiliki ketenangan hati dan kejernihan pikiran. Misalnya saja seorang sales. 

Salesman adalah sebuah pekerjaan yang tidak akan berhasil jika ditunggangi dengan hati yang emosional. Sebab katanya kalau sudah emosi yang berbicara, maka rejeki seorang salesman bisa hilang. Dikarenakan mentalnya mencair, semangatnya meluap. Sehingga malas untuk meneruskan berjualan. Biasanya karena susah dapat order, atau sedang sepi - kemudian yang terjadi berikutnya ialah emosi dalam hati berbicara dan mengambil alih peran akal. Padahal akalnya mengatakan bahwa dia masih harus mencoba terus menawarkan hingga jam lima sore bila perlu. Karena boleh jadi pada kunjungan yang berikut berikutnya order akan didapatkan.

Itulah mengapa seorang salesman harus lebih memaksimalkan akalnya ketimbang emosinya. Dan jika anda bergaul dengan seorang salesman, maka akal anda juga sebenarnya sedang belajar. Yaitu mempelajari kapan dan bagaimana anda boleh emosi, tentunya berdasarkan ukuran seorang salesman.     

Faktor lain yang bisa mempengaruhi akal

Pengalaman hidup. Pengalaman hidup juga sangat berpengaruh terhadap kerja akal anda. Misalnya saja dalam hidup ini, anda telah berpengalaman mengalami konflik dalam keluarga besar istri anda. Dan itu terjadi selama bertahun tahun ketika anda masih tinggal di kota tempat lahir istri anda. Yang notabene punya adat istiadat serta pola hidup yang berbeda dengan kota tempat kelahiran anda. 

Pengalaman mengalami konflik seperti itu, sebenarnya adalah sebuah proses menuju pendewasaan akal. Karena akal anda jadi tau hal hal lain diluar kebiasaan hidup anda selama ini di kota anda sendiri - dan akal anda mempelajari hal itu. 

Apa yang berubah berikutnya? Anda akan merasakan, bahwa menghargai orang lain jauh lebih menyenangkan dibanding terus menerus menuntut untuk minta dihargai terlebih dahulu. Ego anda akan semakin menipis. Tergantikan dengan keinginan yang begitu besar untuk menyayangi, menghargai, mendengarkan, memandang orang lain didepan anda dengan senyuman. 

Dan dengan begitu pula, maka akal anda bisa menjadi "matang" karena memang digodog oleh hidup ini. Dan bukan "matang" karena kejemur usia. 

Bila akal anda sudah sedemikian rupa digodog oleh hidup. Maka niscaya fungsi akal anda akan menjadi maksimal setiap kali bertugas mengimbangi emosi hati. Bahkan berdasarkan pengalaman saya. Secara keseluruhan diri anda tidak akan lagi mudah tersinggung atau tersindir atau apalah semacam itu. Sebab akal anda sudah mampu menetralisir perasaan(hati) yang seperti itu. Akal anda akan mampu berfikir panjang berlipat lipat dibandingkan biasanya. Hingga emosi di hati anda akan sirna dengan mudahnya.

Apa iya bisa seperti itu? Iya! Bisa! Mengapa?

Sebab jika akal anda sudah berada pada level tersebut. Maka akal anda akan memperlihatkan hal hal yang positif, dan hanya positif. Atau, akal anda akan memperlihatkan pada anda tentang visi kedepan yang jauh lebih penting untuk hidup anda. Dibandingkan bila anda hanya menguras energi untuk sekedar tersinggung atau cemburu atau marah atau tersindir dan sebagainya. Emosi anda akan terkontrol dengan manisnya. Suksespun sangat mungkin anda raih.

Bagaimana, anda siap untuk memaksimalkan kerja akal anda... Sebagai cara menghadapi emosi anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PENTING! Mohon komentar ditulis dengan bahasa yang baku dan tidak disingkat singkat. Komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Komentar yang akan dimunculkan adalah yang sesuai dengan isi artikel. Terima kasih atas pengertiannya dan harap dimaklumi.

Tentang Saya


Saya biasa dipanggil Fajar. Tinggal di Surabaya dengan dua orang anak dan istri tercinta. Sepanjang perjalanan hidup saya hingga saat ini, telah banyak hal saya alami. Baik itu yang menyenangkan maupun yang relatif bukan termasuk hal menyenangkan. Dengan menulis disini, saya berharap bisa berbagi dan memberi inspirasi bagi orang banyak. Terima kasih bagi pengunjung yang telah sudi singgah di blog ini.